BERITA UTAMA - Pemerintah DKI Jakarta telah mengalokasikan hibah sebesar Rp 1,6 triliun (US $ 118,3 juta) untuk 104 organisasi massa nirlaba, yang sebagian besar adalah negara Islam, tahun depan.
Organisasi Islam termasuk masjid, mushola, dan majlis taklim (tarekat studi Quran), menurut situs anggaran kota apbd.jakarta.go.id.
Masjid-masjid, seperti Al Qodiyatul Ikhlas di Cengkareng, Jakarta Barat, dan Baitul Maqdis Al Rahmah di Johar Baru, Jakarta Pusat, akan menerima hibah masing-masing antara Rp 40 juta dan Rp 100 juta. Sementara itu, musholla akan diberikan antara Rp 30 juta sampai Rp 100 juta, dan masing-masing majlis taklim akan menerima Rp 20 juta sampai Rp 25 juta.
Masjid-masjid di Jakarta memainkan peran penting dalam meningkatkan kemenangan Anies dalam pemilihan gubernur di awal tahun ini.
Selama kampanye gubernur, beberapa masjid meminta umat Islam untuk tidak melakukan sholat pemakaman bagi almarhum umat Islam yang ditemukan telah mendukung pesaing Anies, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama, yang adalah seorang Kristen etnis Tionghoa.
Meskipun demikian, sebagian dana tersebut juga dialokasikan untuk lembaga keagamaan lainnya, seperti gereja Protestan di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Gereja Bethel di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan Parisada Hindu Dharma Indonesia. Hibah bervariasi dari Rp 80 juta sampai Rp 1 miliar.
Selain organisasi keagamaan, hibah juga diberikan kepada institusi lain, seperti kelompok mahasiswa paramiliter mahasiswa, organisasi pemuda Karang Taruna, Yayasan Kanker Indonesia, Badan Konsultasi Budaya Betawi (Bamus Betawi) dan organisasi massa Laskar Merah Putih.
Anggota dewan kota William Yani telah mempertanyakan metode yang digunakan oleh pemerintah untuk menentukan jumlah yang diberikan kepada masing-masing institusi.
"Saya meminta [agar pemerintah menjelaskan] kriteria, mengapa Komando Resimen Mahasiswa mendapat Rp 1 miliar dan Laskar Merah Putih Rp 500 juta, sementara ada banyak ormas di ibu kota," katanya.
